Labels

Geografi (10) Islam (53) Kuliah (5) Peta (6) Power Point (4) Skripsi (1) Tokoh (1) Video (1)

Haji dan Kurban : Ketaatan, Perjuangan dan Pengorbanan


      Sebagaimana kita ketahui, Pemerintah melalui Kemenag telah menetapkan Idul Adha 10 Dzulhijah tahun ini jatuh pada Hari Rabu, 22/8/2018. Sebelumnya, Pemerintah Saudi telah menetapkan Idul Adha tahun ini jatuh pada Hari Selasa, 21/8/2018. Dengan demikian bisa dipastikan, kaum Muslim di Tanah Air akan merayakan Hari Idul Adha tahun ini pada hari berbeda. Pasalnya, sebagian kaum Muslim di sini tetap mengacu pada ketetapan Pemerintahan Saudi. Mereka antara lain beralasan, Idul Adha berkaitan erat dengan ritual ibadah haji, khususnya wukuf di Arafah (Hari Arafah) yang jatuh pada Senin, 20/8/2018.

Idul Adha dalam Duka
      Terlepas dari perbedaan di atas, di Tanah Air, Idul Adha tahun ini sama-sama akan dirayakan saat bangsa ini dirundung oleh ragam ujian. Di kalangan elit politik, tampak nyata hasrat dan nafsu untuk saling berebut jabatan atau untuk terus mempertahankan kekuasaan. Ego pribadi, kehendak golongan dan kepentingan partai, tak jarang mendominasi. Saling sikut berebut kursi. Masing-masing siap mengorbankan apa saja, bahkan mengorbankan siapa saja demi jabatan dan kekuasaan. Saat yang sama, rakyat terus ditimpa nestapa. Kemiskinan, pengangguran, harga-harga kebutuhan pokok yang terus melonjak, utang negara yang terus menumpuk dan aneka persoalan lainnya. Ironisnya, semua derita rakyat itu terjadi di tengah keberlimpahan kekayaan alam negeri ini. Minyak bumi, emas, perak, tembaga, aneka mineral, kekayaan hayat, hutan belantara, kekayaan laut dan banyak yang lainnya memang terhampar di seantero negeri ini. Sayang, semua kekayaan itu tak banyak rakyat nikmati. Sebab sebagian besamya telah dikuasai oleh pihak asing, swasta dan pribadi-pribadi
      Di sisi lain, bencana demi bencana terus mengguncang negeri ini. Yang terkini adalah gempa bumi yang bertubi-tubi. Di NTB dan Bali. Semua ini tentu makin menambah derita penduduk negeri tercinta ini. Namun demikian, hendaknya kita selalu menyadari bahwa semua duka pada akhirmya akan terhenti kecuali duka karena meninggalkan petunjuk Baginda Nabi SAW Semua bahagia pun akan sima, kecuali bahagia saat kita diakui sebagai umatnya. Tentu saat kita benar-benar meneladani ketaatan, perjuangan dan pergorbanannya di jalan AllahSWT

Merenungkan Nasihat Nabi SAW.
      Di tengah nestapa dan derita bangsa ini, juga dalam momen Idul Adha tahun ini mari kita renungkan nasihat-nasihat Baginda Nabi SAW pada saat Haji Wada'. Selama Haji Wada', beliau berkhutbah di hadapan lebih dari 100 ribu jamaah haji. Tak hanya sekali. Beliau berkhutbah di Hari Arafah, Hari Idul Adha juga Hari Tasyriq Berikut ini adalah sebagian kecil dari isi khutbah yang beliau sampaikan :
      Wahai manusia, sungguh darah dan harta kalian adalah suci bagi kalian, seperti sucinya hari ini, juga bulan ini, sampai datang masanya kalian menghadap Tuhan... Saat itu kalian akan dimintai pertanggungiawaban atas segala perbuatan kalian... Ingatlah baik-baik, janganlah kalian sekali-kali kembali pada kekafiran atau kesesatan sepeninggalku sehingga merjadikan kalian saling berkelahi satu sama lain..
      Ingatlah baik-baik hendaklah orang yang hadir pada saat ini menyampaikan nasihat ini kepada yang tidak tidak hadiř Boleh jadi sebagian dari mereka yang mendengar dari mulut orang kedua lebih dapat memahami daripada orang yang mendengarmya secara langsung... (HR al-Bukhari dan Muslim)
Beliau pun bersabda
      Ingatlah, tak ada keutamaan bangsa Arab atas bangsa non-Arab. Tak ada pua keunggulan bangsa non-Arab atas bangsa Arab. Tidak pula orang berkulit putih atas orang berkuit hitsm. Tidak pula orang berkulit hitam atas orang berkulit putih Kecuali karena ketakwaannya... (HR Ahmad)
Beliaujuga bersabda
      Wahai manusia, sesungguhnya segala hal yang berasal dari tradisi jahilah telah dihapus di bawah dua talapak kakiku ini . Riba jahiliah pun telah dilenyapkan.
      Wahai manusia, sesungguhnya lelah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara, yang menjadikan kalian tidak akan tersesat selama-lama jika kalian berpegang teguh pada keduanya. Itulah Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.. .(HR lbnu Khuzaimah)
Dari apa yang Baginda Nabi SAW. sampaikan di atas, ada sejumiah hal yang beliau nasihatkan kepada kita. Di antaranya:
      Pertama, kita dingatkan oleh beliau untuk tidak merasa unggul atas bangsa dan umat lain. Tak selayaknya bangsa Arab merasa lebih unggul atas bangsa non-Arab. Tak sepatutnya bangsa non-Arab, termasuk kita di Nusantara ini, merasa lebih unggul atas bangsa Arab. Sebab keunggulan manusia atas manusia lain di sisi Allah SWT hanya karena ketakwaannya. Takwa tentu harus dibuktikan dengan ketaatan total atas seluruh perintah dan larangan-Nya dengan menjalankan semua syariah-Nya.
      Kedua, kita diperintahkan oleh beliau untuk menjaga darah, harta dan kehormatan sesama. Tak boleh saling menumpahkan darah. Haram saling merampas harta Terlarang saling menodai kehormatan sesama.
      Ketiga, kita diperintahkan oleh beliau agar meninggalkan semua tradisi jahiliah. Di antaranya riba dalam segala bentuknya. Sayang, hari ini riba bukan saja merajalela. Riba bahkan telah menjadi pilar ekonomi yang utama. Tidak aneh jika utang ribawi dengan bunga sangat tinggi, sangat berpeluang membangkrutkan negeri. Akankah bangsa ini terus mengabaikan nasihat Baginda Nabi SAW ini?
      Keempat, kita diharuskan oleh beliau untuk senantiasa memelihara tali persaudaraan, Sayang, hari ini tali persaudaraan seolah hilang. Antar kelompok umat Islam bisa saling berhadap- hadapan. Asal berbeda mazhab, bisa saling bertindak tak beradab. Asal beda paham bisa saling melemparkan tudingan. Asal beda organisasi, bisa saling mem-bully Asal beda kepentingan, bisa saling menggunting dalam lipatan. Tak ada lagi ruh berjamaah Tak ada lagi rasa kebersamaan. Mereka seolah lupa, kaum Muslim itu bersaudara Mereka harusnya saling menguatkan, bukan saling melemahkan.
      Kelima, kita pun diharuskan oleh beliau untuk selalu menyampaikan nasihat kepada orang lain. Sebab, kata Baginda Nabi saw, agama adalah nasihat. Di antara nasihat yang paling utama adalah yang ditujukan kepada penguasa agar tidak terus dalam kesesatan dan penyimpangan. Agar penguasa fidak terus melakukan kezaliman  Kezaliman terbesar pernguasa tidak lain saat mereka tidak menerapkan al-Quran. Saat mereka tidak menerapkan syariah Islam ltulah yang Allah SWT tegaskan :
Siapa saja yang tidak memerintah dengan apa yang Allah turunkan (al-Quran), mereka itulah kaum zalim (QS al-Maidah [5]:45)
      Keenam, kita diwajibkan oleh beliau untuk selalu berpegang teguh pada al- Ouran dan as-Sunnah. Baginda Nabi saw telah menjamin. Siapapun yang istiqamah berpegang teguh pada keduanya, tak akan pernah tersesat selama-lamanya. Sayang apa yang dipesankan Baginda Nabi saw. 14 abad lalu, tak banyak diindahkan oleh kita hari ini.Al-Quran dan as-Sunnah tak lagi kita pedulikan, kecuali sebatas bacaan. Isinya kila abaikan, Hukum-hukumnya kita campakkan. Pantas, saat ini, bangsa ini seperti tersesat jalan. Pantas pula negeri ini dirundung aneka persoalan. Lalu sampai kapan al-Quran dan as-Sunnah akan terus kita abaikan?

Esensi badah Haji dan Kurban
      Sudah maklum, selain Baginda Rasulullah saw. yang wajib kita amalkan seluruh ajarannya dan semua nasihatnya ada sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haj dan kurban. Dialah Nabiyullah Ibrahim as. Di dalam OS al-Shafat [37) ayat 102,Allah SWT mengisahkan bagaimana Ibrahim as. dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikit pun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya menyembelih putra tercintanya Ismail as. Demikianlah. kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.
      Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis ini selayaknya menjadi ibrah sepanjang zaman bagi umat Islam. Sebab bukankah Allah SWT pun telah berfirman:
Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (dijałan Allah) yang paling kalian cintai (QS Ali mran [3:92)
      Nabiyullah Ibrahim as. telah membuktikan hal itu. Bukan hanya harta, bahkan nyawa putra semata wayangnya-yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya-ia persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah. Zat Yang lebih ia cintai dari apapun. Karena itu pada momen penting ibadah haji dan kurban tahun ini, selayaknya kita bisa mengambil ibrah dari keteladanan Nabiyullah Ibrahim as.; dari besarnya cinta, ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah SWT. Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT ini kemudian diteruskan secara sempurna. bahkan dengan kadar yang istimewa, oleh Baginda Rasulullah saw. Bukan hanya cinta dan taat Bahkan beliau pun siap mengorbankan segalanya, termasuk nyawa sekalipun, demi tegaknya agama Allah SWT ini.
      Ala kulli hal. Inilah sesungguhnya esensi ibadah haji dan kurban. Kita diajari tentang cinta, ketaatan dan kepatuhan total kepada Allah SWT. Kita pun diajari tentang keharusan untuk berkorban- mengorbankan apa saja yang ada pada diri kita semata-mata demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim. Karena itu dengan meneladani cinta ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim as. dan Baginda Rasulullah saw. mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Tentu saat kita hidup dalam naungan sistem Islam yang paripurna, di bawah ridha Allah SWT


HIKMAH
Mereka (kaum Yahudi dan Nasrani) menjadikan para pendeta dan para rahib mereka sebagai tuhan-tuhan selain Allah SWT. Begitu pula mereka menjadika Al-Masih putra Maryam. Padahal mereka telah diperintahkan beribadah hanya kepada Tuhan Yang Satu. Tidak ada Tuhan selain Dia. Mahasuci Allah dari semua kesyirikan mereka (QS at - Taubah [9] : 31).

Sumber : KAFFAH Edisi 052
05 Dzulhijjah 1439 H
17 Agustus 2018

Sebaran Wisata di Nagari Sungai Pinang